Flash Fiction

Diantara Kita Tak Ada yang Bercanda (6)

Sebelum memutuskan untuk pergi ke resto menemui Arsen, Emilia memandang langit dari balkon kantornya. Jakarta yang selalu hidup, tempat yang tak pernah ia bayangkan hidupnya bermula hingga kini dewasa. Dengan Mama, satu-satunya yang ia miliki setelah tiga tahun yang lalu Papa meninggal. Sosok lelaki yang gagah tapi penuh misteri.

Saat itu Emilia merayakan ulang tahun yang ke-20, tanpa Papa. Kata Mama, sedang ada tugas ke luar kota. Tidak ada yang aneh, tapi Emilia merasakan hal yang tidak biasa karena Papa tidak bisa dihubungi. Papa juga mengucapkan selamat ulang tahun sehari sebelum ulang tahunnya.

Tiga hari berlalu, Papa pulang dengan wajah yang lesu. Emilia dan Mama bersemangat menyambutnya, makan malam bersama, noton tv bersama. Sampai pada pukul 23.00, Mama tiba-tiba berteriak marah sambil melempar beberapa barang milik Papa. Kotak perhiasan kosong, paper bag parfum perempuan tanpa ada isinya. Kuat dugaan Mama, Papa selingkuh.

“Papa menikah. Papa tidak selingkuh.” Kata Papa, hancur hati Emilia, rusak pertahanan Mama. “Papa cinta dia…”

Pertama kalinya Emilia melihat pertengkaran dahsyat malam itu. Mimpi terburuknya adalah nyata. Mama begitu patah hati karena lelaki yang dipercayainya mendua, menghancurkan setia yang saling dititipkannya. Seminggu, Mama mengunci diri. Emilia bingung karena Papa memilih pergi, pamitnya supaya Mama bisa menenangkan diri. Brengsek! Desisnya kala itu.

Papa mendua, memilih menemani seorang janda beranak dua. Cinta katanya. Lalu Mama? Dia kunjungi beberapa hari sekali, berat sebelah. Pun keuangan Papa, kian terasa terbagi dua. Komunikasi seadanya, sampai akhirnya Mama dirawat di rumah sakit. Hampir gila.

“Maaf sayang,” kata Papa pada Emilia. “Papa bersalah…” lanjutnya sedikit. “Papa juga udah minta maaf sama Mama. Mama udah maafin Papa.” Semudah itu menjelaskan pada Emilia.

Sakitnya Mama perlahan membaik dan berhasil sembuh, Emilia selalu menemani. Ke mana Mama ingin pergi, Emilia di sisinya. Mama tidak pernah bicara tentang Papa, tapi Mama sering sekali menangis tanpa suara. Kehilangan, patah hati, menyalahkan diri sendiri, dan menyimpan semua rahasia rapat rapat dari keluarga besar Mama.

*

Setahun kemudian, perusahaan Papa bangkrut, tak lama setelah dinyatakan bangkrut Papa kecelakaan di tol saat ingin menemui perempuan simpanannya. Papa selamat dengan luka yang parah hingga menyebabkan kelumpuhan. Papa pulang, berkumpul lagi bersama Emilia dan Mama. Lelaki gagah itu kini tak berdaya.

“Pa… kalau mau sesuatu bilang ya,” tatapan Mama masih bisa hangat buat Papa. “Mama ada di sini,”

Kemudian bel berbunyi tiga kali, tergesa gesa sekali. Emilia bergegas membukakan pintu. Seorang perempuan modis, bertubuh mungil, mencari Papanya.

“Maaf siapa ya?”

“Saya istrinya.” Kata perempuan itu.

Emilia tertawa sinis. “Mau ngapain lo ke rumah gue?”

“Mau ketemu suami saya! Kenapa dia nggak pernah datang lagi ke saya!?”

“Siapa Mil?” Tanya Mama dari dalam.

“Maling, Ma! Mau ketemu Papa…”

Mama dengan tenang menghampiri Emilia dan perempuan itu. Mengajaknya masuk menemui Papa. Sejak kapan Mama bisa sekuat ini?

“Kok bisa gini? Kamu ke mana aja sih, Mas?” Perempuan itu bertanya dengan nada tinggi. “Aku tuh belum bayar ini itu, kamu nggak datang datang!”

“Tolong ya, Mbak. Suami saya ini habis bangkrut, kecelakaan pas mau ke rumah kamu.” Sela Mama. “Kamu ke sini kayak nagih utang aja.”

“Dia kan suami saya! Saya berhak dong minta hak dan kewajiban saya.”

“Mau jemput Mas Kevin? Mau merawatnya? Boleh kok…” kata Mama.

“Berapa lama sembuhnya?”

“Mas Kevin lumpuh, nggak bisa ngomong lagi. Harus banyak ditanya kalau mau tau maunya dia.” Jelas Mama. “Atau mau diantar ke sana? Nanti saya antarkan.”

“Duuuh, nggak deh. Aku minta cerai aja lah, Mas. Seharusnya masih ada yang bisa kamu kasih ke aku walaupun kamu bangkrut!”

“Maaf, maaf banget nih ya… Mas Kevin bangkrut, semua hartanya udah dipakai buat nutup hutang perusahaan.”

“Nggak mungkin. Saya nggak percaya! Kamu… ini pasti akal akalan kamu sama anakmu kan?!”

“Lho Mbak, saya serius. Rumah ini punya orang tua saya, atas nama saya. Mas Kevin udah nggak punya apa-apa.”

“Ya udah, pokoknya aku minta cerai!”

“Ya cerai aja, toh pernikahan kalian pernikahan sirri.” Emilia nyeletuk ringan. Dia melirik Papa, dari raut wajahnya tampak tegang.

Kemudian perempuan itu pergi, tanpa pamit. Emilia melihat Papa menangis. Mama menahan air matanya, lalu keluar dari kamar. Cinta katanya. Beruntung, Mama sabar. Mama merawat Papa di sisa waktu Papa. Ya, tak lama setelah divonis lumpuh, 5 bulan bertahan kemudian Papa meninggal.

Sakit hati Mama, sembuh dengan sendirinya. Mendewasakan perlahan hatinya dan hati Emilia, terlalu cepat semua terjadi dan hilang. Papa jahat, Mama kuat. Begitu di dalam pikirannya. Menangkap logika Papa yang tenggelam di puncak dunia, tak dapat apapun dari seseorang yang dipilihnya. Kesenangan sesaat, tak berdaya dipeluk kekasih sejatinya. Mama yang tak banyak meminta, yang tak mengeluh atas kesalahan Papa.

Dan lamunan Emilia terbuyarkan oleh suara Rania, teman kantornya yang menghampiri. Dia memberi tahu seseorang bernama Arsen sedang menunggunya di ruang tunggu.

“Dari tadi loh Mil, gue sih baru liat.”

“Oh, iya Mbak. Makasih ya, aku ke luar dulu…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *