Flash Fiction

Diantara Kita Tak Ada yang Bercanda (5)

Jam tujuh pagi, Emilia bersiap berangkat ke tempat kerjanya. Sambil perlahan menuruni anak tangga, tangan kanannya menelepon Mario.

“Sorry, semalam gue lupa charge hp. Iya hari ini gue ke kantor kok, Mas. Lumayan banyak kerjaan,” gadis itu tiba tiba terhenyak. “Ya udah ya, gue sarapan dulu. Bye.”

Tampak sosok Arsen sedang duduk di kursi makan sambil menikmati roti buatan Mama.

“Hai Mil,” dia menyapa dengan santai. “Aku antar ke kantor ya?”

“Sarapan dulu, Mil.”

“Bawa bekal aja Ma,” Emilia menyiapkan beberapa helai roti untuk dibawa. “Aku mau cepat sampai ke kantor.” Ujarnya sambil berusaha mengabaikan lelaki itu, yang pagi pagi sudah stand by di rumahnya.

Arsen mengikuti Emilia pamit pada Mama, gadis itu masih diam tak banyak komplain. Dia bersedia diantar Arsen.

“Cowok yang kemarin itu udah nungguin di kantor?”

“Iya. Mau sarapan bareng!”

“Kamu nggak akan bisa bikin aku nyerah dengan cara kayak gini, Mil. Kasihan cowok itu.” Arsen memasangkan seat belt di bangku Emilia. “Kenapa aku kayak gini? Karena kamu ada dalam rencanaku… aku belum gagal.”

“Arsen,”

“Aku tau kamu nggak bisa jauh sama aku. Itu nggak akan terulang…” sela lelaki itu.

“Aku nggak ngerti.”

“Kamu mau nikah sama aku nggak?” Tanya Arsen serius. Dia menyalakan mesin mobil lalu bergegas mencari jalan menuju kantor Emilia.

Sementara itu Emilia terdiam, belum memberi jawaban. Masih ada ruang di hatinya untuk Arsen, tapi ini terlalu cepat. Bagaimana dengan Mario yang selama ini ada di dekatnya? Lelaki itu juga sudah mengungkapkan perasaannya.

“Aku serius, Mil.”

“Stop. Berhenti. Aku mau turun di sini. Jangan antar aku ke kantor.”

“Kamu mau diantar ke mana?”

“Aku nggak mau diantar kamu, Arsen. Cukup.”

Arsen bergeming, dia tak menahan Emilia. Gadis itu keluar dari mobilnya setelah ia berhenti di depan sebuah halte. Ini baru hari kedua, pikir Arsen. Memang butuh waktu untuk kembali menerima, butuh waktu untuk memberikan jawaban. Arsen tidak memaksa, tapi usahanya sudah sejauh ini—sejauh langkahnya dari Amerika menuju Jakarta.

Pukul 10.00 Emilia sampai di kantor, Mario mendekati mejanya. Raut wajah Emilia tampak suntuk. Lelaki itu meletakkan satu cup capuccino yang masih hangat di meja Emilia.

“Ada masalah Mil?”

“Nggak ada,”

“Temen SMA lo gangguin lo?”

Emilia menggeleng. Tidak mungkin bercerita pada Mario tentang Arsen, sebab Mario pun sedang menunggu hatinya terbuka. Sementara Arsen yang datang kembali, jelas membuat hatinya menjadi kacau.

“It’s okay, Mil.” Mario menatapnya lurus. Sedikit mengulas senyum. “Cowok itu datang bukan tanpa maksud. Gue tau, karena gue cowok.”

“Apaan sih Mas, nggak jelas banget…”

“Dia mantan lo kan?”

Emilia melebarkan mata. “Lo tau dari mana?”

“Your old blogpost. Gue baca, semuanya.”

Emilia menghela nafas. Ada rasa bersalah, dia merutuk jejak digital kehidupannya yang dia abaikan. Dia pikir tidak penting masa lalunya. Emilia tidak tahu harus bicara apa lagi, Mario tahu tentang Ray dan sekarang Arsen. Pusing dengan persoalan ini, Emilia memilih tak peduli dengan tatapan Mario. Dia menghadapkan wajahnya ke layar laptop dan meneruskan pekerjaannya.

Ponselnya berdenting, itu pasti Arsen, pikir Emilia. Tak lama, ponselnya berdering dan nama Arsen yang muncul.

“Mil, kalau di hadapan lo ada 2 pilihan… lo berhak untuk memilih salah satunya kok.” Kata Mario sebelum beranjak dari sisi Emilia.

Seolah membiarkan Emilia menjawab telepon dari Arsen, lelaki berjaket abu-abu itu keluar dari ruangan. Bersama dengan langkah yang menjauh, Emilia cuma bisa menatap punggung Mario yang berjalan menutup pintu. Dengan malas, Emilia mendekatkan handphonenya ke telinga.

“Ada apa?”

“Aku mau makan siang bareng kamu,”

“Aku nggak mau.”

“As a friend. Janji, aku nggak bahas hal yang kamu nggak mau bahas.” Ujar Arsen, tapi Emilia tak menyahut.

“Janji nggak lama lama kok, oke?”

“Liat aja nanti,”

“Oke, makan di resto deket kantor kamu.”

*

Kesempatan yang datang ini sebetulnya untuk siapa? Setelah Ray pergi meninggalkannya, Mario ada di dekatnya. Setelah Mario mengatakan perasaannya, Arsen justru datang kembali. Situasi ini tidak menyenangkan untuk Emilia, apa benar dirinya punya pilihan? Lalu mengapa sikapnya selalu dingin pada dua pria yang mendekatinya ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *