Flash Fiction

Di antara Kita Tak Ada yang Bercanda (4)

Emilia tak banyak bicara, dia meminta Mario pulang duluan. Sementara Emilia mengiyakan permintaan Arsen pulang bersamanya. Tampaknya Mario penasaran dengan hadirnya Arsen yang tiba-tiba menjemput Emilia. Seseorang yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Ah, gadis itu memang tak banyak cerita tentang kehidupan pribadinya kecuali baru baru ini. Dan lelaki yang datang jelas bukan Ray—orang yang dibanggakan Emilia.

*

“Tadi itu siapa?”

“Teman kerja.”

“Dia naksir kamu.”

“Aku tahu,”

“Banyak yang berubah setelah aku pergi, ya.”

“Yup. Kamu benar lagi…”

“And… how about August Raymond Ferdinand?”

Emilia melempar pandangan keluar jendela. Arsen memilih jalan yang macet, padahal terjebak di situasi membosankan ini membuat dirinya pusing sendiri. Tapi dia hanya ingin punya waktu yang panjang bersama gadis itu.

“Aku cuma satu minggu di Jakarta, acara tadi pagi dan memang mau ketemu kamu. Aku bersyukur banget bisa ketemu lagi.” Arsen mulai bicara serius.

“Kenapa mau ketemu lagi?”

“Kali ini aku nggak akan ninggalin kamu lagi, Mil. Aku serius aku mau memperbaiki hubungan kita.”

“Tapi masa lalu kita sekedar cinta monyet, Arsen. Aku biasa aja kok kamu pergi…”

Emilia terlalu naif untuk mengakui perasaannya sendiri.

“Aku nggak pernah melupakan kamu Mil. Aku tau kita kesulitan karena jarak, tapi sekarang aku yakin kita bisa.” Lanjut Arsen. “Apa kamu udah nikah? Apa aku terlambat?”

Belum terlambat Arsen. Emilia belum menikah.

“Siapa August Raymond Ferdinand itu? Pacar kamu? Is he special to you? More than me?”

“Ya.”

“Tapi dia udah nggak ada kan?”

“Kamu hebat ya Arsen, udah tau banyak hal tentang aku yang sekarang.” Ujar Emilia sinis. “Aku nggak butuh kamu datang untuk mengacau.”

“Please. Aku pingin memperbaiki hubungan kita, aku mau serius. Aku mau nikah sama kamu. Aku mau ajak kamu ke Amerika.”

Tentu saja ini bukan proses melamar yang serius di mata Emilia. Dirinya bahkan tidak tahu harus menghindari lelaki ini.

“Just tell me how… how to take you with me?” Mobil Arsen sudah sampai di depan rumah Emilia. “Boleh aku ketemu Mama kamu?”

“Jangan maksa! Aku nggak suka.” Emilia buru buru melepas seat belt. “Makasih buat tumpangannya.”

“It’s okay. Nggak masalah. Yang penting sekarang aku udah ketemu kamu lagi.”

Lelaki itu tak berubah, masih dengan caranya yang dulu ketika ia sesekali tersenyum sambil melirik ke arah Emilia. Perasaan lelaki itu terpancar dari perlakuannya.

“Mama kamu apa kabar?”

“Baik.”

“Aku senang bisa ketemu lagi sama kamu, Mil. Aku ke sini juga untuk cari kamu…” kata Arsen. “Aku berharap kita bisa lanjut,” Dia bahkan terlalu cepat berterus terang.

“Kita udah selesai di masa lalu, Arsen.”

“Salahku apa Mil?”

“Nggak ada.”

“Harusnya nggak ada alasan untuk kamu ninggalin aku, Mil.”

“Kamu yang ninggalin aku!” Emilia sedikit meninggi. “Please nggak usah bahas masa lalu.” Tegasnya.

“How about August Raymond Ferdinand? Who is he?” Arsen bertanya lagi tentang Ray.

Emilia tidak menjawab. Seperti disudutkan oleh pertanyaan itu. Dulu, dia yang memutuskan semua komunikasi dengan Arsen. Jarak jauh, waktu yang berbeda, keterbatasan itu membuat Emilia jenuh dan memilih menyerah. Selang berapa tahun berikutnya, dia mengenal Ray. Dia juga jatuh cinta dengan lelaki itu, singkat waktu sebelum akhirnya Ray wafat.

“Tahu dari mana?”

“Your last post.”

Arsen belum ingin berpisah, tapi mobilnya sudah di depan rumah Emilia. Cukup untuk mengantar sampai sini, masih ada hari esok untuk berjumpa lagi.

“Last question, kamu harus jawab jujur Mil…”

“Apa lagi?”

“Kamu kangen aku nggak?” Arsen menatap lurus mata Emilia, mencari jawaban di mata gadis itu.

“Kamu tebak aja dan anggap itu benar. Makasih udah nganterin.”

*

Mario menatap langit langit kamarnya, gelisah karena Emilia belum mengabarinya. Apa dia baik baik saja? Lelaki itu siapa? Mungkinkah hanya teman? Kenapa tatapannya begitu dalam pada Emilia?

Dia mencoba mengirim chat, tapi Emilia tak menjawabnya.

*

“Ma, Arsen ada di Jakarta.”

Mama sedikit kaget. “Wow, apa kabarnya dia?”

“Baik.”

“Kamu ketemu dia?”

“Iya. Aku dianterin pulang sama dia…”

Emilia tampak lesu, dia juga tidak melanjutkan cerita. Setelah bicara sebentar dengan mamanya, gadis itu pergi ke kamar dan tidak keluar lagi. Ponselnya dinonaktifkan, bahkan dia tidak ingat untuk memberi kabar pada Mario.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *