“Aku akan pergi, kamu nggak usah cari ya.” Katanya membuka pembicaraan kami. “Janji jangan cari ya?” Ucapnya serius, ia lalu menyicip segelas espresso hangat dari cangkirnya.

“Pede amat bakalan aku cari sih, Mas?” Balasku sekenanya.

“Aku yakin kamu akan cari aku, Mil. Biasanya feelingku nggak pernah meleset…”

“Emangnya Mas mau ke mana sih?”

“Pergi.”

“Jangan becanda dong, seriuslah. Males aku…”

“Aku nggak bercanda, Emilia.”

“Ok baiklah… Mas pergi, aku nggak dikasih tau, aku nggak boleh cari. Ada lagi pesan terakhirnya?”

“Aku minta maaf.”

“Aku maafin. Aku orangnya pemaaf kok, Mas.”

Lelaki itu menghela nafas, lalu diam cukup lama. Aku tahu dia tidak pernah bercanda, apalagi untuk pamitnya ini. Lelaki yang baru lima bulan kukenal, terkadang dia begitu posesif tapi selalu menyenangkan. Seperti seorang yang tepat untuk hadir di usiaku yang sudah 24 tahun. Ketika teman sepermainanku hampir semua sudah menikah, aku justru baru bertemu dengan lelaki ini. August Raymond Ferdinand.

“Aku juga minta maaf, Mas. Aku nggak mengucapkan apa apa untuk perayaan natalmu.”

“It’s ok, aku nggak minta. Aku tahu alasanmu.”

Ray sosok yang belum pernah kutemui, tidak ada lelaki yang sama seperti dia. Dia sopan memperlakukanku, meski kadang bicaranya spontan kasar saat mengumpat suatu hal.

“Mau pesen makan nggak? Aku traktir deh, aku baru gajian nih. Kan mau libur akhir tahun, gajiannya diduluin gitu.”

Dia menggeleng lalu tersenyum. “Thanks. Kan aku yang ngajak ketemu, masa kamu yang bayar…”

“Ok baiklah, back to the topic.”

“Aku bingung mulai dari mana,”

“Dari tadi Mas Ray udah ngomong panjang kok, dan aku dengar.”

Dia nyengir. Salah tingkah. “Sorry.”

Aku nggak tahu, apa yang membuat dia harus bertemu denganku sore ini. Pun aku nggak tahu, apa yang membuat kami harus berkenalan awalnya di sebuah halte. Lebih parah lagi, aku nggak tahu siapa dia sebenarnya. Di mana dia tinggal dan… ya aku nggak tahu apa-apa tentang dia.

“Mas, Mas bukan kriminal kan? Bukan buron kan?”

“Bukan! Ngaco ya kamu.”

Aku hanya pernah sekali berusaha cari tahu tentang dia, tapi hanya sekali juga dia kasih tahu KTP nya. Dia tinggal di Jakarta, tapi sudah nggak tinggal di alamat yang tertera. Bingung aku tuh. Tapi benar, namanya August Raymond Ferdinand. Seorang katolik dan bergolongan darah A.

“Aku mau jujur sama kamu Mil…” katanya pelan sekali. “Ini akan jadi pertemuan terakhir kita.” Lanjutnya.

Aku nggak yakin kalau dia sedang mengerjaiku. Matanya tampak berkaca kaca saat bicara.

“Kamu dengar aku dulu ya, sampai aku selesai.”

“Iya, Mas. Silakan…”

Dan gelisah datang memeluk perasaanku. Mas Ray bicara banyak tentang perasaannya. Padaku. Ternyata perasaan kami sama, entahlah… aku senang, tapi sadar ini tak seharusnya. Bukankah ada tembok pembatas tertinggi di antara kami?

“Aku tadinya anggap kamu kayak adik, makanya aku nggak pingin kamu pulang malam malam. Saat kerja atau main atau saat kita ketemuan.” Pelan pelan dia menjelaskan. “Aku nggak tergoda dengan kamu karena kita beda agama, sama sekali nggak. Aku nggak penasaran. Aku cuma nggak bisa menampik, aku jatuh hati sama kamu Mil.”

Deg. Are you sure? Mas?

“Maaf ya Mil…”

Dia tidak gugup, tapi aku nggak tahu ekspresi macam ini. Wajahnya datar, bicaranya pelan. Apakah perasaannya sebegitu rahasia?

“Maaf ya Mil, karena kita nggak mungkin bersama. Aku mungkin nggak akan ketemu kamu lagi.”

“Udah boleh nanya belum?”

Dia mengangguk.

“Mas jujur, tapi Mas nggak ngasih tau mau ke mana. Mas kepedean, dengan ngungkapin perasaan Mas itu dikira aku juga sama?”

“Iya. Maaf ya Mil…”

Azan berkumandang, aku beranjak ke mushola kafe sebentar. Dia masih duduk, espressonya sudah habis saat aku kembali.

“Sudah yuk, aku antar pulang.”

“Ada permintaan terakhir?”

“Ada.”

“Apa?”

“Mohon izin, peluk sebentar.”

“Nggak diizinkan. Bukan mahrom!”

“It’s ok, aku ngerti.”

Dia mengantarku pulang. Selama di mobil, kami semakin hemat bicara. Mungkin karena permintaannya ditolak, dia malu atau gengsi atau apalah. Pria berbadan tegap itu menjadi sangat fokus menyetir. Tak ada lagu lagu yang diputar, aku pun berkali kali membuang pandangan ke luar jendela.

“Mas pasti udah pernah peluk cewek ya?” Tuduhku tiba-tiba.

“Pernah.”

“Emang meluk meluk tuh enak?”

“Aku peluk ibuku, Mil.”

Astaghfirullah. Malu deh gue!

“Ya kenapa nggak minta peluk ibu Mas Ray aja lagi?”

“Udah meninggal, Mil.”

Ya Allah gusti mulut gue…

“Ya Allah maafin aku ya Mas…”

“Nggak apa apa, kamu kan nggak tau.”

Sampai di depan rumah, sebelum aku pamit, dia memberiku sebuah bingkisan. Dia bilang nanti saja dibukanya. Jujur, berat sekali aku melangkah. Kali ini dia benar benar memandangiku sambil tersenyum.

“Aku sayang kamu, Emilia. Jaga diri baik baik ya, tetap fokus sama cita cita kamu. Jangan berhenti… meski hatimu patah lagi.” Ujarnya serius.

“Hati hati ya Mas, sampai ketemu lagi…” balasku sebelum turun dari mobilnya.

*

Pria itu benar benar hilang. Sudah satu tahun. Aku bukan menunggunya, aku benar benar mencarinya. Apa aku ditipu? Tapi tak satupun dariku dirugikan. Mas Ray tak mengambil apapun dariku. Sial, dia tidak punya sosmed sama sekali. Aku tak pernah mengenalnya. Jangan jangan KTP itu palsu? Apa sih yang dia mau? Untuk apa menghilang setelah bilang jatuh hati dan sayang padaku?

Di tempat yang sama, satu tahun lalu. Aku mengenakan jam tangan pemberiannya, bahkan isi surat terakhirnya selalu kubawa. Ada apa denganku? Aku jatuh cinta? Dengan lelaki yang sudah meninggalkanku?

Dear, Emilia

Jam tangan ini suatu saat akan berhenti, seperti halnya waktuku. Terima kasih sudah mau berbagi banyak hal denganku, juga keluargamu yang hangat.

Nanti kalau sudah ketemu jodohmu, menikahlah dan cintailah dia Mil. Dia beruntung dicintaimu. Di manapun aku, aku selalu merindukanmu.

-Ray-

*

Desember 2019

Lututku lemas setelah menerima sepucuk surat yang dikirim dari seseorang. Ia mengaku adik Mas Ray, dia bilang Mas Ray gugur saat bertugas di negara konflik. Dia juga menjelaskan siapa seorang yang tak benar benar kukenal itu. Lewat sebuah foto, pria itu berseragam militer. Gagah sekali dia. Tak hanya foto itu, adiknya juga mengirimkan foto dokumen yang menandakan Mas Ray sudah tiada.

Aku adiknya Mbak, namaku Ve. Mas Ray nggak akan pernah ngasih tau identitas aslinya, itu berbahaya buat orang lain. Mbak Emilia, kakakku itu beneran suka sama Mbak. Dia belum pernah jatuh cinta sama cewek. Dia nggak pintar ngungkapin perasaannya. Maafin kakakku itu ya, Mbak. Supaya tenang di alam sana…

Mas Ray baru pertama kali jatuh cinta? Sama aku? Selama ini dia sibuk bela negara sampai lupa sama dirinya sendiri? Dan buatku… ini adalah kehilangan yang kedua. Patah hatiku yang kedua. Mas… pantas aja kamu sepede itu sama perasaanmu ya, kamu yakin kalau aku bakal sangat kehilangan.

“Mil… jangan ngelamun,” kata Mama. “Ya sudah didoakan saja ya, semoga tenang di alam sana.”

“Rasanya kayak mimpi, Ma…”

“Kamu beruntung kenal dia, dia juga beruntung kenal kamu…”

Tangisku pecah saat Mama meninggalkanku di kamar. Foto Mas Ray di ponselku cukup banyak, dia meninggalkan jejak di kameraku. Bahkan dia sempat membuat video pesan singkat buatku, selalu kuputar ulang untuk mengobati rindu.

“Hai Mil, kamu tuh kebanyakan bercanda ya. Kayak nggak punya beban hidup… tapi aku salut sih, kamu kuat juga ya ditinggal teman temanmu nikah.”

“Mil, agakugu sagayagang kagamuguuu!”

Pergilah Mas, terima kasih buat perasaanmu dan rindu yang sudah kamu janjikan. Terima kasih, ya, Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *