Flash Fiction

Di antara Kita Tak Ada yang Bercanda (3)

Emilia masih tak habis pikir, tak juga menyangka bahwa ceritanya akan begini. Mario bukan lelaki idamannya, dia hanya nyaman berteman dengan lelaki itu. Sebab bertemu dalam bidang yang sama dan itu bukanlah impiannya. Sengaja atau tidak, batinnya membandingkan sosok Ray dan Mario. Keduanya memang punya kesamaan, tapi dia tidak ingin bayang bayang Ray melekat pada diri Mario.

“Kok ngelamun?” Mama memperhatikannya sejak Emilia duduk di kursi makan tanpa menyentuh sarapannya. “Mil…” panggil Mama sambil menyentuh bahu Emilia.

“Eh-iya Ma…”

“Ini tadi ada ojek online kirim sarapan, katanya dari Mario.”

Hah? Mario? Ngapain kirim sarapan pakai ojol? Ihhhh. Geramnya dalam hati.

“Kabarin gih, bilang terima kasih.” Ujar Mama.

Emilia tidak menyahuti. Dua porsi bubur ayam kiriman Mario disantap dengan baik olehnya dan Mama. Usai sarapan, dilihatnya layar ponsel. Lelaki itu mengirim pesan, enjoy your breakfast ya Mil. Gue pingin lo cobain bubur dagangan gue, walaupun bukan gue yang bikin hehe.

Thank you, Mas. Balas Emilia singkat.

*

Rasanya capek patah hati, kali ini nggak tahu juga harus merespon gimana. Yakin nggak, ragu juga nggak. Pertama kali patah hati, lelaki itu pergi pindah tempat tinggal. Dia menemukan teman baru yang aku nggak bisa adaptasi di sini, adaptasi dengan jarak. Aku nggak bisa mencintai keterpisahan. Kedua kali, aku jatuh hati tapi lelaki itu pergi juga—bedanya selamanya. Nggak mungkin kembali lagi. Kali ini aku bingung, apa yang harus dilakukan?

Apa aku nggak memerlukan pasangan? Apa aku hanya perlu sendiri saja? Jujur ini begitu melelahkan.

*

Pukul 08.00 pagi, Emilia hendak menghadiri undangan workshop. Ia baru saja tiba di lobby sebuah hotel di Jakarta. Kemudian seseorang berdiri menghadangnya.

“Mil,” sosok lelaki yang tidak asing buatnya.

“Arsen…”

Lelaki itu tersenyum lebar. “Apa kabar, Mil?”

“Baik,” singkat saja jawabnya, karena gadis itu mulai grogi.

“Aku di sini lagi ada acara, Mil. Boleh minta nomor hp kamu?”

Waktu seakan berhenti, Emilia gugup. Setelah perpisahan 7 tahun yang lalu, Arsen muncul di hadapannya dan menyapanya lagi. Lelaki yang pernah dia sayangi, datang lagi seperti pertama kali.

“Sen sorry, buru buru nih.”

“Mil, please…”

Emilia tergesa gesa meninggalkan Arsen di lobby. Dia berjalan cepat menuju hall tempat workshop. Berharap tidak bertemu lagi dengan lelaki itu. Tapi semesta memang menggariskan pertemuan ini, saat Emilia sudah duduk di kursi dan siap mengikuti acara. Rupanya dia baru menyadari, Arsen adalah salah satu pembicara dalam workshop. Selama berlangsungnya acara, dalam hati dia tak berhenti merutuk. Bayar mahal ikut workshop ternyata untuk ketemu mantan? Arghhh.

Di kesempatan yang sama, Arsen mencuri pandang ke arah Emilia. Perempuan itu terlihat lebih dewasa. Ya, pertemuan terakhir mereka di bandara, saat itu Emilia belum mengerti make up. Berbeda dengan hari ini, Emilia yang dewasa. Apa yang membawa dia ke sini? Sebagai peserta workshopku? Begitu pikir Arsen.

Arsen Adam Jefferson, lelaki blasteran Amerika-Jawa Barat yang lahir di Indonesia. Tumbuh besar di Jakarta, teman SMA Emilia. Saat banyak perempuan kagum padanya, Emilia tidak. Apa istimewanya sih? Ternyata saat lelaki itu jatuh cinta padanya, benar Arsen istimewa. Namun, bukan karena fisik dan blasterannya, tetapi karena benar dia baik. Sekilas kenangan tentang Arsen kembali terputar di ingatannya.

Selesai acara, Emilia hendak meninggalkan tempat itu. Tapi Arsen sudah berdiri di hadapannya lagi.

“Mil, jangan pergi dulu. Please.” Ujar Arsen.

“Aku harus ke kantor.”

“Aku antar ya?”

“Pokoknya aku antar.”

Belum sempat dijawab, Arsen sudah memutuskan. Emilia tidak banyak bicara, dia melenggang pergi begitu saja. Arsen mengejarnya, dia ingin bicara.

“Mil… please. Sebentar, ngobrol.”

“Waktuku nggak banyak.”

“Ya udah kalo gitu minta nomor hp kamu, oke?”

“Nggak.” Tegas Emilia. “Kalo kamu masih ngikutin aku, aku teriak supaya satpam ke sini ya Arsen. Aku nggak main main.” Arsen tertahan. Emilia berjalan terus menuju pintu keluar.

Tapi Arsen punya ide, dia mencari data peserta workshop dan mencari nama Emilia berseta kontaknya. Dia juga mencari perempuan itu di sosial media. Instagram, satu satunya sosial media yang tidak diprivat. Ada satu foto yang sangat membuatnya bertanya tanya, foto siluet lelaki dengan caption ‘Fly higher dear you August Raymond Ferdinand, thank you for the love, the joy, for the time. It’s feel like an empty place here, I can’t find you, I can’t see your eyes. But you’ll always live in my forever prayer. I miss you so badly.’ Dan foto itu baru diupload lima hari lalu.

Siapa lelaki itu? Apakah Emilia sudah menikah? Di mana dia kerja sekarang? Apa rumahnya masih yang dulu? Begitu banyak pertanyaan di kepala Arsen serta persaan yang ingin disampaikan, bahwa aku sangat merindukanmu Emilia. Aku masih sendiri. Aku belum menikah.

*

Emilia, ini aku Arsen. Jangan abaikan aku lagi Mil, aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku datang ke sini, mau ketemu kamu Mil.

Emilia mematung setelah membaca chat WhatsApp yang baru saja masuk, sebuah nomor yang tak dikenalnya. Kemudian ponselnya berdenting lagi, satu chat baru.

Mil, mau pulang jam berapa lo? Udah mau maghrib.

Ternyata chat dari Mario. Lelaki itu sudah menunggunya di lobby kantor.

Emilia tidak membalas satupun. Dia sudah lelah hari ini, sudah lelah dengan kehilangan dan kejutan. Dia ingin pulang, merebahkan diri dan terlelap.

*

“Mil, ngapain aja lo di atas lama banget. Betah?” Mario segera menghampirinya setelah gadis itu keluar dari lift.

“Mil, ayo aku antar.” Ada suara lain di antara mereka.

Mario menoleh, lalu memandang Emilia yang terpaku. Gadis itu seolah tercekat. Apa apaan ini? Kenapa Arsen ke sini?

“Dia siapa Mil?” Tanya Mario.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *