Mario terbelalak, Emilia bergegas pergi. Dia nggak tahu sebenarnya wajah Ray, orang yang pernah diceritakan Emilia. Jika benar begitu, tentu sulit bagi keduanya. Siapa yang sudi berpasangan tapi dibayang bayangi masa lalu dari salah satunya? Dan Emilia tidak ingin menyakiti Mario, terlebih menyakiti dirinya sendiri.

Setahun belakangan, setelah surat pertama dan terakhir Ray sampai di tangannya—Emilia melanjutkan hidup. Bertemu orang orang baru, termasuk Mario yang wajahnya mirip dengan Ray. Hanya berbeda sedikit karena Mario begitu humoris dan bukan penyuka espresso.

Apa benar takdir mampir ke sini? Atau salah aku mengenalnya? Emilia membatin. Apa perlu aku menyesal?

“Udah di rumah, Mil?”

“Udah,”

Boleh nggak sih berharap… supaya jangan ada yang berubah? Mario bertanya dalam hati. Ternyata nggak segampang yang dipikirkan, mendekati gadis—yang belum tentu berminat dengannya.

“Masih mau temenan kan sama gue?”

“Anggap aja tadi nggak bahas apa-apa ya kan?” Emilia mencoba mengkonfirmasi. “Tenang aja, Mas.”

“Jadi nggak seru ya, Mil… sorry.”

“It’s ok.”

“Ya udah deh, good night ya Mil.”

Dan biasanya kata good night tak terasa seperti barusan, kedengaran begitu sopan. Ya, benar—nggak seru lagi katanya. Emilia terkejut bukan karena dia menyukai Mario, tapi dirinya tidak siap dengan kejujuran lelaki itu.

Sikapnya bisa berubah kapan saja, hak dia jika tidak punya rasa yang sama. Tidak disambut tidak apa, ditinggal lagi juga risikonya. Emilia mungkin kebetulan dekat dengannya, tapi dia juga tidak tahu bagaimana jika gadis itu bukan Emilia.

Mario memejamkan mata, mungkin besok ada petunjuk lain. Entah menyenangkan atau tidak buatnya, asal Emilia masih mau bicara. Itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *