• Flash Fiction

    Diantara Kita Tak Ada yang Bercanda (6)

    Sebelum memutuskan untuk pergi ke resto menemui Arsen, Emilia memandang langit dari balkon kantornya. Jakarta yang selalu hidup, tempat yang tak pernah ia bayangkan hidupnya bermula hingga kini dewasa. Dengan Mama, satu-satunya yang ia miliki setelah tiga tahun yang lalu Papa meninggal. Sosok lelaki yang gagah tapi penuh misteri. Saat itu Emilia merayakan ulang tahun yang ke-20, tanpa Papa. Kata Mama, sedang ada tugas ke luar kota. Tidak ada yang aneh, tapi Emilia merasakan hal yang tidak biasa karena Papa tidak bisa dihubungi. Papa juga mengucapkan selamat ulang tahun sehari sebelum ulang tahunnya. Tiga hari berlalu, Papa pulang dengan wajah yang lesu. Emilia dan Mama bersemangat menyambutnya, makan malam bersama,…

  • Flash Fiction

    Diantara Kita Tak Ada yang Bercanda (5)

    Jam tujuh pagi, Emilia bersiap berangkat ke tempat kerjanya. Sambil perlahan menuruni anak tangga, tangan kanannya menelepon Mario. “Sorry, semalam gue lupa charge hp. Iya hari ini gue ke kantor kok, Mas. Lumayan banyak kerjaan,” gadis itu tiba tiba terhenyak. “Ya udah ya, gue sarapan dulu. Bye.” Tampak sosok Arsen sedang duduk di kursi makan sambil menikmati roti buatan Mama. “Hai Mil,” dia menyapa dengan santai. “Aku antar ke kantor ya?” “Sarapan dulu, Mil.” “Bawa bekal aja Ma,” Emilia menyiapkan beberapa helai roti untuk dibawa. “Aku mau cepat sampai ke kantor.” Ujarnya sambil berusaha mengabaikan lelaki itu, yang pagi pagi sudah stand by di rumahnya. Arsen mengikuti Emilia pamit pada…

  • Flash Fiction

    Di antara Kita Tak Ada yang Bercanda (4)

    Emilia tak banyak bicara, dia meminta Mario pulang duluan. Sementara Emilia mengiyakan permintaan Arsen pulang bersamanya. Tampaknya Mario penasaran dengan hadirnya Arsen yang tiba-tiba menjemput Emilia. Seseorang yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Ah, gadis itu memang tak banyak cerita tentang kehidupan pribadinya kecuali baru baru ini. Dan lelaki yang datang jelas bukan Ray—orang yang dibanggakan Emilia. * “Tadi itu siapa?” “Teman kerja.” “Dia naksir kamu.” “Aku tahu,” “Banyak yang berubah setelah aku pergi, ya.” “Yup. Kamu benar lagi…” “And… how about August Raymond Ferdinand?” Emilia melempar pandangan keluar jendela. Arsen memilih jalan yang macet, padahal terjebak di situasi membosankan ini membuat dirinya pusing sendiri. Tapi dia hanya ingin punya…

  • Flash Fiction

    Di antara Kita Tak Ada yang Bercanda (3)

    Emilia masih tak habis pikir, tak juga menyangka bahwa ceritanya akan begini. Mario bukan lelaki idamannya, dia hanya nyaman berteman dengan lelaki itu. Sebab bertemu dalam bidang yang sama dan itu bukanlah impiannya. Sengaja atau tidak, batinnya membandingkan sosok Ray dan Mario. Keduanya memang punya kesamaan, tapi dia tidak ingin bayang bayang Ray melekat pada diri Mario. “Kok ngelamun?” Mama memperhatikannya sejak Emilia duduk di kursi makan tanpa menyentuh sarapannya. “Mil…” panggil Mama sambil menyentuh bahu Emilia. “Eh-iya Ma…” “Ini tadi ada ojek online kirim sarapan, katanya dari Mario.” Hah? Mario? Ngapain kirim sarapan pakai ojol? Ihhhh. Geramnya dalam hati. “Kabarin gih, bilang terima kasih.” Ujar Mama. Emilia tidak menyahuti.…

  • Flash Fiction

    Di antara Kita Tak ada yang Bercanda (2)

    Mario terbelalak, Emilia bergegas pergi. Dia nggak tahu sebenarnya wajah Ray, orang yang pernah diceritakan Emilia. Jika benar begitu, tentu sulit bagi keduanya. Siapa yang sudi berpasangan tapi dibayang bayangi masa lalu dari salah satunya? Dan Emilia tidak ingin menyakiti Mario, terlebih menyakiti dirinya sendiri. Setahun belakangan, setelah surat pertama dan terakhir Ray sampai di tangannya—Emilia melanjutkan hidup. Bertemu orang orang baru, termasuk Mario yang wajahnya mirip dengan Ray. Hanya berbeda sedikit karena Mario begitu humoris dan bukan penyuka espresso. Apa benar takdir mampir ke sini? Atau salah aku mengenalnya? Emilia membatin. Apa perlu aku menyesal? “Udah di rumah, Mil?” “Udah,” Boleh nggak sih berharap… supaya jangan ada yang berubah?…

  • Flash Fiction

    Di antara Kita Tak Ada yang Bercanda (1)

    “Aku akan pergi, kamu nggak usah cari ya.” Katanya membuka pembicaraan kami. “Janji jangan cari ya?” Ucapnya serius, ia lalu menyicip segelas espresso hangat dari cangkirnya. “Pede amat bakalan aku cari sih, Mas?” Balasku sekenanya. “Aku yakin kamu akan cari aku, Mil. Biasanya feelingku nggak pernah meleset…” “Emangnya Mas mau ke mana sih?” “Pergi.” “Jangan becanda dong, seriuslah. Males aku…” “Aku nggak bercanda, Emilia.” “Ok baiklah… Mas pergi, aku nggak dikasih tau, aku nggak boleh cari. Ada lagi pesan terakhirnya?” “Aku minta maaf.” “Aku maafin. Aku orangnya pemaaf kok, Mas.” Lelaki itu menghela nafas, lalu diam cukup lama. Aku tahu dia tidak pernah bercanda, apalagi untuk pamitnya ini. Lelaki yang…